Slideshow

Advertisement (468 x 60px )

Latest News

Kamis, 01 Desember 2011

Etika Bisnis

Etika Bisnis

I. Pendahuluan

Pengertian etika merupakan usaha sistematis dengan menggunakan rasio untuk menafsirkan pengalaman moral individu dan moral sosial sehingga dapat menetapkan aturan untuk mengendalikan perilaku manusia, sehingga seseorang dapat mengerti mengapa dirinya harus mengikuti ajaran moral tertentu, atau bagaimana dirinya dapat mengambil suatu sikap yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, etika sebagai ilmu menuntut agar seorang manusia untuk berperilaku moral secara kritis dan rasional.

Etika di dalam bisnis akan sulit memiliki relevansi bagi para pelaku bisnis yang hanya memusatkan tujuannya tentang bisnis pada hari ini dan keuntungan sesaat yang sifatnya jangka pendek. Dalam sistem perekonomian pasar bebas konteks bisnis menjadi kompetitif. Setiap perusahaan berusaha untuk unggul berdasarkan kekuatan objektifnya, yaitu modal dan tenaga kerja. Modal yang besar saja tidak cukup memadai. Tenaga professional juga tidak kalah pentingnya, karena tenaga professional yang akan menentukan manajemen dan profesionalisme suatu perusahaan. Berkaitan dengan tenaga kerja, keahlian dan ketrampilan saja tidak cukup, karena komitmen moral adalah hal yang juga penting untuk dimiliki oleh seorang tenaga kerja. Artinya keuntungan yang diciptakan seharusnya tidak sepihak. Oleh karena itu seharusnya interaksi yang baik harus dilakukan antara pemilik perusahaan dengan karyawan, relasi bisnis, konsumen, dan orang-orang yang berkepentingan dengan perusahaan demi terciptanya keuntungan yang berdasarkan moral di dalam kegiatan bisnis.

II. Etika Bisnis

a. Etika

Etika berasal dari bahasa Yunani kuno, kata Yunani ethos merupakan bentuk tunggal yang bisa memiliki banyak arti, adat, akhlak, watak, perasaan, sikap dan cara berpikir. Bentuk jamaknya adalah ta etha yang berarti adat kebiasaan. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Etika merupakan cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral, dalam hal ini standar-standar yang diaplikasikan dalam kehidupan dipertanyakan apakah standar itu masuk akal atau tidak masuk akal. Proses pemeriksaan standar moral seseorang atau masyarakat erat kaitannya apakah didukung dengan penalaran yang baik atau buruk ketika standar tersebut diterapkan dalam situasi dan permasalahan konkrit. Tujuan standar moral adalah untuk mengembangkan bangunan standar moral yang kita rasa masuk akal untuk dianut dan dengan hal tersebut dapat dicapai suatu kesimpulan tentang moral yang benar dan salah. Etika dimulai ketika manusia menerapkan unsur-unsur etis dalam dalam pendapat-pendapat spontan. Kebutuhan akan refleksi tersebut akan terasa, karena pendapat etis yang ada di dalam setiap manusia berbeda dengan manusia yang lainnya. Oleh karena itu etika diperlukan untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya adalah etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia. Fungsi etika antara lain adalah untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan berbagai moralitas, dan orientasi etis yang diperlukan dalam mengambil sikap yang wajar dalam ruang pluralisme.

b. Bisnis

Dalam ilmu ekonomi, bisnis adalah kegiatan ekonomis yang kurang lebih terorganisasi untuk menghasilkan keuntungan atau suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya untuk mendapatkan laba. Kata bisnis berasal dari bahasa inggris yaitu business, dari kata dasar busy yang berarti ”sibuk” dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan. Dalam ekonomi kapitalis, dimana kebanyakan bisnis dimiliki swasta, bisnis dibentuk untuk mendapatkan profit dan meningkatkan kemakmuran para pemiliknya. Pemilik dan operator dari sebuah bisnis mendapatkan imbalan sesuai dengan waktu, usaha, atau capital yang mereka berikan. Namun tidak semua bisnis mengejar keuntungan seperti ini, misalnya bisnis kooperatif yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Model bisnis seperti ini kontras dengan sistem sosialistik, dimana bisnis besar kebanyakan dimiliki oleh pemerintah, masyarakat umum, atau serikat pekerja. Secara etimologi, bisnis berarti keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang sibuk melakukan pekerjaan yang menghasilkan keuntungan. Kata “bisnis” sendiri memiliki tiga penggunaan tergantung skupnya. Penggunaan singular kata bisnis dapat merujuk pada badan usaha, yaitu kesatuan hukum yuridis, teknis, dan ekonomis yang bertujuan mencari laba atau keuntungan. Penggunaan yang lebih luas dapat merujuk pada sektor pasar tertentu, misalnya “bisnis pertelevisian”. Penggunaan yang paling luas merujuk pada seluruh aktivitas yang dilakukan oleh komunitas penyedia barang dan jasa. Bisnis dalam arti luas adalah istilah umum yang menggambarkan semua aktifitas dan institusi yang memproduksi barang dan jasa dalam kehidupan sehari-hari. Aspek-aspek bisnis antara lain adalah :

1. Kegiatan individu dan kelompok

2. Penciptaan nilai

3. Penciptaan barang dan jasa

4. Keuntungan melalui transaksi

c. Etika Bisnis

Etika bisnis adalah Studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan,institusi,dan perilaku bisnis. Studi ini dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah yang berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis. Etika bisnis merupakan studi standar formal dan bagaimana standar itu diterapkan ke dalam sistem organisasi yang digunakan masyarakat modern untuk memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa kemudian diterapkan kepada orang-orang yang ada di dalam organisasi. Menurut Richard De George bisnis adalah seperti kebanyakan kegiatan sosial lainnya, mengandaikan suatu latar belakang moral, dan mustahil bisa dijalankan tanpa ada latar belakang moral seperti itu. Jika setiap orang yang terlibat dalam bisnis-pembeli, penjual, produsen, manajer, karyawan, dan konsumen- betindak secara immoral atau bahkan amoral (yakni tanpa mempedulikan apakah tindakannya bermoral atau tidak), maka bisnis akan segera terhenti. Moralitas adalah minyak yang menghidupkan serta lem yang merekatkan seluruh masyarakat, termasuk juga bisnis. Jadi etika bisnis mencakup hubungan antara perusahaan dengan orang yang menginvestasikan uangnya dalam perusahaan, dengan konsumen, pegawai, kreditur, dan pesaing.

- Orang yang menanamkan uang atau investor menginginkan manajemen dapat mengelola perusahaan secara berhasil, sehingga dapat menghasilkan keuntungan bagi mereka.

- Konsumen menginginkan agar perusahaan menghasilkan produk bermutu yang dapat dipercaya dan dengan harga yang layak.

- Para karyawan menginginkan agar perusahaan mampu membayar balas jasa yang layak bagi kehidupan mereka, memberi kesempatan naik pangkat atau promosi jabatan.

- Pihak kreditur mengharapkan agar semua hutang perusahaan dapat dibayar tepat pada waktunya dan membuat laporan keuangan yang dapat dipercaya dan dibuat secara teratur.

- Pihak pesaing mengharapkan agar dalam persaingan dilakukan secara baik, tidak merugikan dan menghancurkan pihak lain.

Konsep etika bisnis tercermin pada corporate culture (budaya perusahaan). Menurut Kotler (1997) budaya perusahaan merupakan karakter suatu perusahaan yang mencakup pengalaman, cerita, kepercayaan dan norma bersama yang dianut oleh jajaran perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari cara karyawannya berpakaian, berbicara, melayani tamu dan pengaturan kantor. Dasar pemikirannya adalah Suatu perusahaan akan memiliki hak hidup apabila perusahaan tersebut memiliki pasar, dan dikelola oleh orang-orang yang ahli dan menyenangi pekerjaannya. Agar perusahaan tersebut mampu melangsungkan hidupnya, ia dihadapkan pada masalah:

- intern,misalnya masalah perburuhan

- Ekstern,misalnya konsumen dan persaingan

- Lingkungan, misalnya gangguan keamanan

pada dasarnya ada 3 hal yang dapat membantu perusahaan mengatasi masalah di atas yaitu:

1. Perusahaan tersebut harus dapat menemukan sesuatu yang baru.

2. Mampu menemukan yang terbaik dan berbeda

3. Tidak lebih jelek dari yang lain

Untuk mewujudkan hal tersebut perlu memiliki nilai-nilai yang tercermin pada:

- Visi

- Misi

- Tujuan

- Budaya organisasi

Orang-orang bisnis diharapkan bertindak secara etis dalam berbagai aktivitasnya di masyarakat. Harus ada etik dalam menggunakan sumber daya yang terbatas di masyarakat, apa akibat dari pemakaian sumber daya tersebut dan apa akibat dari proses produksi yang dilakukan. Etika bisnis menyangkut usaha membangun kepercayaan antara masyarakat dengan perusahaan,dan ini merupakan elemen sangat penting bagi suksesnya suatu bisnis dalam jangka panjang. Jadi prinsipnya seorang wirausaha lebih baik merugi daripada melakukan perbuatan tidak terpuji. Menjaga etika adalah suatu hal yang sangat penting untuk melindungi reputasi perusahaan. Masalah etika ini selalu dihadapi oleh para manajer dalam keseharian kegiatan bisnis, namun harus dijaga terus menerus, sebab reputasi sebuah perusahaan yang etis tidak dibentuk dalam waktu pendek tapi akan terbentuk dalam jangka panjang. Dan ini merupakan aset tak ternilai sebagai good will bagi sebuah perusahaan. Suatu trademark istimewa dalam competitive advantage.

d. Etika Bisnis Yang Baik

Dari pengertian bisnis yang telah dinyatakan oleh Richard De George dapat disimpulkan bahwa etika bisnis merupakan alat bagi para pelaku bisnis untuk menjalankan bisnis mereka dengan lebih bertanggung jawab secara moral. Para pemilik perusahaan selalu mengharapkan bahkan menuntut para karyawannya bekerja dengan baik sesuai dengan perjanjian kerja yang telah disepakati, agar tidak merugikan perusahaan. Para pemilik perusahaan juga mengharapkan agar relasi bisnis mereka tidak menipu dan bekerja sesuai dengan perjanjian kerjasama yang telah disepakati. Sebaliknya, para pemilik perusahaan sendiri mengikat dirinya untuk adil terhadap karyawannya, dengan memberikan gaji yang seharusnya menjadi milik para karyawan. Para pemilik perusahaan juga mengikat dirinya agar menjalankan bisnis mereka dengan baik dan tidak berbuat curang kepada relasi bisnis mereka. Kemudian pada tingkatan final, tindakan benar dilakukan berdasarkan prinsip moral karena logis, universality, dan konsistensi. Universality artinya suara hati, atau bisa disebut dengan anggukan universal yang mengacu pada God Spot.

e. Etika Bisnis Dalam Praktek

1. Kasus Enron

Pada terbitan April 2001, majalah Fortune menjuluki Enron sebagai perusahaan paling innovative di Amerika “Most Innovative” dan menduduki peringkat 7 besar perusahaan di Amerika. Enam bulan kemudian (Desember 2001) Enron diumumkan bangkrut. Kejadian ini dijuluki sebagai “Penipuan accounting terbesar di abad ke 20”. Dua belas ribu karyawan kehilangan pekerjaan. Pemegang saham-saham Enron kehilangan US$ 70 Trilyun dalam sekejap ketika nilai sahamnya turun menjadi nol. Kejadian ini terjadi dengan memanfaatkan celah di bidang akuntansi. Andrew Fastow, Chief Financial officer bekerjasama dengan akuntan public Arthur Andersen, memanfaatkan celah di bidang akuntansi, yaitu dengan menggunakan “special purpose entity”, karena aturan accounting memperbolehkan perusahaan untuk tidak melaporkan keuangan special purpose entity bila ada pemilik saham independent dengan nilai minimum 3%. Dengan special purpose entity tadi, kemudian meminjam uang ke bank dengan menggunakan jaminan saham Enron. Uang hasil pinjaman tadi digunakan untuk menghidupi bisnis Enron.

Dari kasus WorldCom’s dan Enron diatas, dapat diamati bahwa walaupun sudah ada aturan yang jelas mengatur system accounting, tetapi kalau manusia yang mengatur tadi tidak bermoral dan tidak beretika maka mereka akan memanfaatkan celah yang ada untuk kepentingan mereka.

III. Penutup

Pada dasarnya semua pihak yang memiliki kepentingan dalam suatu kegiatan bisnis, terlibat di dalamnya karena ingin memperoleh keuntungan. Artinya dalam hal ini perusahaan tersebut tidak boleh merugikan hak dan kepentingan semua pihak terkait demi kesuksesan dan kelangsungan bisnis perusahaan. Hak dan kepentingan semua pihak harus diperhatikan dan dijamin. Dengan kata lain, perusahaan tersebut harus menjalani relasi bisnis yang baik dan etis dengan semua pihak terkait: jujur, bertanggung jawab dalam penwaran barang dan jasa, bersikap adil terhadap mereka, dan menguntungkan satu sama lain. Disinilah dapat terlihat bahwa prinsip-prinsip dalam etika bisnis menemukan tempat penerapannya yang paling konkret dan sangat sejalan dengan tujuan bisnis perusahaan, yaitu untuk memperoleh keuntungan.

Sumber :

A. Sonny Keraf, Etika Bisnis, Tuntunan dan Relevansinya, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1998), hal.59. Dalam Sorta Riana Pakpahan, Etika Bisnis, FIB UI, 2008.

http://id.wikipedia.org/wiki/Etika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar